Ratusan pemuda di wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan, Kalimantan
Utara, pagi ini kembali menyusuri jejak sejarah konfrontasi Indonesia
dengan Malaysia. Sebanyak 131 tim, masing-masing terdiri dari lima
orang, mengikuti Napak Tilas Dwikora yang diselenggarakan radio lokal Swara Tribun Indonesia dalam memperingati peringatan Hari Sumpah Pemuda.
Ketua
Panitia, Sudirman, mengatakan, semua peserta akan menyusuri jalur Kompi
X KKO TNI AL dalam menjaga wilayah perbatasan saat konfrontasi dengan
Malaysia dengan jarak tempuh 15 kilometer.
“Jalur yang kita
pilih adalah jalur Kompi X saat KKO TNI AL berada di Nunukan untuk
menjaga wilayah negara Indonesia. Ini baru sebagian jalur karena jalur
konfrontasi ada juga di Pulau Sebatik dan Seimenggaris, bahkan di
Krayan,” ujar Sudirman.
Sementara itu, Manajer Radio Swara Tribun Indonesia, Niko Ruru, mengatakan, Napak Tilas Dwikora merupakan langkah media radio Swara Tribun Indonesia untuk mengajak masyarakat Nunukan mengingat bahwa di Nunukan pernah ada pertempuran.
“Bukti riilnya adanya makam pahlawan Jaya Sakti dan Tugu Dwikora. Masyarakat Nunukan banyak yang enggak ngerti siapa yang dikubur di taman makam pahlawan,” ujar Niko Ruru.
Selain menggelar napak tilas, radio Swara Tribun Indonesia juga menyiarkan pembacaan narasi kisah pengalaman pasukan KKO yang bertugas saat konfrontasi terjadi yang termuat di buku Kompi X Di Rimba Siglayan: Konfrontasi dengan Malaysia tulisan Supoduto Citra Wijaya.
“Dengan format bercerita, kita harapkan masyarakat Nunukan bisa lebih mengerti sejarah Kota Nunukan sendiri,” tambahnya.
Peserta
Napak Tilas Dwikora berangkat dari makam pahlawan Jaya Sakti dan
mengakhirinya di Tugu Dwikora. Melalui acara Napak Tilas Dwikora,
diharapkan semangat nasionalisme pemuda perbatasan tetap terjaga.
“Meskipun
kita hampir 90 persen kebutuhan hidup warga perbatasan di Nunukan
bergantung kepada Malaysia, tetapi rasa nasionalisme itu harus tetap
terjaga di dada,” ujar Sudirman.